Mengapa Aku Memilih Fakultas Geografi ?

“Setiap orang punya ceritanya masing-masing. Mungkin tak berharga bagi yang lain, tapi baginya pasti memiliki kesan tersendiri. Tak ada yang dapat menilai dengan kuantitas seberapa bermakna cerita itu. Sebab, sesungguhnya cerita itu tentunya tak terlepas dari metamorfosis perjalanan hidupnya”

Dan inilah ceritaku.

Jawaban dari judul postinganku kali ini bermula dari sebuah event tahunan sekolahku, SMA Negeri 1 Bekasi, yang biasa disebut BOB (Best of The Best). BOB ini merupakan acara yang diselenggarakan oleh sekolahku untuk menyeleksi siswa-siswi yang berminat mengikuti olimpiade. Beberapa anak di sekolahku sangat antusias mendengarnya. Mereka dengan cepat mendaftar dan sesudahnya langsung belajar. Tak satu atau dua anak kujumpai mereka membaca buku pegangan olimpiade untuk menghadapi BOB itu. Bahkan, mereka dengan antusias mengikuti pembinaan tutor sebaya dengan kakak kelas yang pernah mengikuti bidang yang sama di tahun sebelumnya.

Tapi tidak dengan aku. Aku tidak pernah bermimpi dan berangan-angan mencicipi apa itu olimpiade. Dulu, di benakku, olimpiade hanyalah wadah bagi mereka yang memang sudah dianugerahi kemampuan intelektual yang luar biasa dari Sang Pencipta. Mindset itulah yang membuatku tidak berminat sama sekali untuk ikut seleksi BOB itu.

Tibalah saatnya formulir pendaftaran itu sampai ke kelas-kelas, termasuk kelasku. Rupanya, panitia BOB telah membuat peraturan bahwa setiap kelas harus mengirimkan minimal 3 perwakilannya di tiap mata pelajaran (Sekadar informasi, bidang olimpiade yang tersedia untuk tingkat SMA ada 9 yaitu Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Komputer, Ekonomi, Geografi, Astronomi, dan Kebumian). Jika ada satu bidang saja yang sama sekali tidak ada yang mendaftar, maka ada WO yang harus dibayar ke panitia.

Sialnya, saat itu di kelasku, ada beberapa bidang yang belum dilirik oleh teman-teman. Mereka rata-rata menumpuk nama mereka di bidang studi yang sudah lebih dari 3 pendaftar. Alhasil, aku harus mendaftar agar aku tidak menjadi bagian yang membuat kelasku harus bayar WO. Di saat itulah, entah kenapa, aku menuliskan namaku pada Bidang Geografi, mungkin karena aku merasa aku tidak mumpuni di bidang ipa yang kupelajari di kelas (aku kebetulan adalah siswa jurusan IPA) dan kebetulan mata pelajaran lintas minat ku adalah Geografi.

Setelah pendaftaran itu, aku seperti tidak peduli dengan semua rangkaian menuju seleksi BOB itu. Yang aku tau adalah aku hanya gak mau kelasku bayar WO. Titik. Disuruh ikut pembinaan tutor sebaya, aku pulang. Temanku sibuk mencari buku pegangan, aku diam-diam saja. Ya, begitulah aku saat itu.

Hingga singkat cerita, aku lolos seleksi BOB itu. Aku pun masih tak paham kenapa aku bisa lolos. Aku benar-benar isi seadanya, bisa dibilang gak mikir bahkan. Karena namaku masuk ke dalam daftar yang lolos, maka tibalah kegiatan Pembinaan Olimpiade setiap Sabtu-Minggu yang diajar oleh kakak-kakak medalist OSN di tahun-tahun sebelumnya. Karena motivasi aku ikut seleksi olimpiade hanya karena gak mau WO, tentunya aku 99% sudah berniat tidak mengikuti pembinaan. Tetapi, tiba-tiba aku berpikir untuk mengikuti pembinaan yang perdana. Hal itu aku dasari hanya agar aku cukup tau saja seperti apa pembinaan olimpiade dan sesudahnya aku dapat kembali menjalani masa SMAku tanpa embel-embel anak olim.

Tiba di hari itu, aku pun masuk ke kelas pembinaan. Banyak dari mereka yang kelas 11 dan ada beberapa orang yang sebaya denganku, kelas 10. Singkat cerita, tutor pertamaku yang bernama Ka Rio Saumun Qodri (Mahasiswa Akuntansi UI yang merupakan medalist OSN Geografi 2013) memberiku first impression pada olimpiade yang sampai kapan pun tidak akan aku lupakan. Bahkan, sampai hari ini dan seterusnya. Saat itu, ia bercerita pengalamannya sebagai anak daerah yang berkecimpung di olimpiade. Ia bercerita tentang ia yang persiapan OSK hanya 7 hari dan yang paling aku ingat, ia yang saat OSN harus baca buku diam-diam karena bukunya sudah jelek. Cerita panjangnya ditutup dengan kalimat “aku yang anak daerah aja, dengan keterbatasan yang ada, aku bisa. Masa kalian yang sudah lengkap fasilitasnya ga bisa”.

Selain cerita inspiratifnya, aku sangat terharu dengan sikapnya. Saat itu, ia memberikan kuis pengetahuan umum (Ya, jadi karena Geografi itu adalah ilmu yang sangat mementingkan aspek keruangan, maka ilmu yang dipelajari harus ditunjang dengan pengetahuan umum yang ada) dan dia sangat sabar menghadapi kebodohanku. Ini sungguhan. Pertama kali aku pembinaan, yang aku tau cuma letak negara ASEAN, selebihnya aku tidak tau (apalagi sampai negara-negara yang dempet-dempetan di daerah Eropa, jangankan tau bahkan ada beberapa negara yang namanya pun belum pernah sama sekali aku dengar). Menghadapi ketidaktahuanku yang luar biasa sekali, ka Rio tetap dengar sabar dan sambil tertawa-tawa selalu memotivasi bahwa suatu saat aku akan bisa.

Tentunya kalian sudah tau kan bagaimana aku selanjutnya ? Pilihanku pun berubah. Aku terus melanjutkan pembinaan itu. Jadi, satu minggu full aku berada di sekolah. Tiap Sabtu dan Minggu kulewati untuk ikut pembinaan, dari jam 08.00 sampai jam 15.00. Tak ada satu kali pun aku izin tidak ikut, Meskipun begitu, aku belum mempunyai rasa apa-apa terhadap geografi. Semuanya aku jalani agar aku bisa menemukan feel di bidang itu. Aku belum begitu fokus untuk mengikuti pembinaan. Dan mungkin ini adalah kesalahanku. Karena aku belum ada rasa suka, aku hanya sekadar mendengarkan, menyimak PPT di depan, dan mencatat. Bahkan beberapa kali jika aku sudah bosan, aku sambil mengerjakan tugas Kimia dan Matematika yang harus dikumpulkan esok harinya (Ini sesuatu yang tidak patut dicontoh).

OSK-ku Tahun Pertama

Setelah aku menghadapi pembinaan Sabtu-Minggu selama kurang lebih 12 kali, kami semua, tim olimpiade sekolah diintensifkan di Bandung kurang lebih seminggu untuk persiapan terakhir sebelum seleksi pertama yaitu seleksi tingkat kota. Nah, disaat itulah, aku baru menemukan minatku untuk belajar geografi. Hal itu aku sadari saat aku membaca buku dan tanganku refleks mencari tambahan informasi tentang yang sedang kubaca di Mbah Gugel.
Tak lama, baru ku dengar sebuah pembicaraan bahwa sekolahku, selama 3 tahun, belum pernah ada satu pun orang yang berhasil melaju ke tingkat provinsi di bidang geografi. Sekolah mengaku sudah melakukan persiapan yang maksimal, tetapi belum ada yang berhasil. Bahkan, salah satu sekolah di Bekasi menjadi langganan juara OSK Geografi dari tahun ke tahun. Mendengar cerita ini, ada sedikit perasaan yang terbersit di hati “Kenapa saya baru dengar ini sekarang?,”
Tibalah saat hari pertandingan itu tiba. Hasilnya tentulah aku gagal. Minat dan sukaku baru tumbuh sehingga persiapanku pun belum matang.

Tahun Kedua Saatnya Aku Memilih

Tibalah aku duduk di kelas 11. Berita BOB tahun 2017 kembali terdengar. Disaat itulah, aku menghadapi kegelisahan yang luar biasa. Kegelisahan itu datang karena banyak sekali nasihat dan saran dari teman-temanku tentang aku yang berniat melanjutkan kembali olimpiade di bidang Geografi.

Saranku sebaiknya pindah, Ren. Kamu bisa coba pindah ke bidang lain. Mungkin ke Kebumian, masih mirip-mirip sama Geografi kok,” kurang lebih begitulah saran mereka karena mereka adalah bagian yang ikut mendengar berita bahwa sekolahku tidak pernah menjadi juara OSK Geografi tingkat kota selama Olimpiade Bidang Geografi resmi diselenggarakan di Indonesia.

Aku mencoba berkonsultasi dengan setiap orang. Kakak kelas, kakak pengajar, guru, teman dekat, bahkan orang tua. Hasilnya adalah semua pilihan itu ada padaku. Dan akhirnya, aku pun memilih untuk kembali melanjutkan tahun keduaku masih di bidang yang sama, Geografi.

Dalam ilmu Matematika, segala sesuatu yang walaupun kecil kemungkinannya, masih bisa disebut sebagai peluang. Bukan kemustahilan. Tak ada salahnya aku mencoba kembali dengan persiapan yang lebih matang. Selain itu, aku berpikir jika aku pindah ke bidang lain, aku yakin bahwa yang ada hanyalah sifat membandingkan bidangku yang baru dan yang telah aku tekuni. Pasti akan sulit bagiku untuk kembali beradaptasi dan memunculkan rasa suka itu, begitulah alasan aku kembali memilih untuk lanjut di bidang yang sama.

Untuk menghadapi seleksi olimpiade di tahun kedua, persiapanku pun tentu jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Bisa dibilang bahwa aku benar-benar mencurahkan perhatian penuh pada persiapan olimpiade di kelas 11. Segala sesuatu tentunya punya dampak. Begitu pun denganku. Berfokus total pada olimpiade membuat perkembangan nilai akademik ku di kelas mengalami banyak penurunan dari nilaiku sebelumnya. Belum lagi, aku tidak pernah mau untuk mengikuti les dan tambahan dari guru sehingga nilai aku pun banyak yang turun bahkan salah satu pelajaran turun melesat sampai 6 poin dan pelajaran itu adalah salah satu pelajaran inti bagi siswa IPA. Selain itu, di kelas 11, selain mengikuti olimpiade, waktuku juga banyak teralokasi mengikuti esktrakurikuler. Aku hanya punya dua eskul, yaitu Pramuka (yang di sekolahku bernama Chadika) dan ECC (English Conversation Club), tetapi aku berusaha untuk aktif di kedua-keduanya.  Di ECC, aku terpilih menjadi wakil ketua TENSES 5 (Lomba Bahasa Inggris SMP dan SMA se-Jabodetabek) dan di Chadika pun aku memasuki tahun menjabat sehingga banyak sekali agenda mulai dari pelantikan (yang diawali dari persiapan-persiapan) sampai menyelenggarakan Hut Chadika (Lomba Pramuka se-Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten). Perkembangan nilai akademik bukan berarti tidak kupedulikan, tetapi aku pun berani mengakui mungkin saat itu aku tidak menjadikannya sebagai prioritas. Mungkin aku sedang jenuh atau mungkin memang aku benar-benar tidak bisa membagi fokusku saat itu.

Singkat cerita, tibalah kembali pembinaan intensif di Bandung. Sekolahku, SMAN 1 Bekasi, bisa dibilang merupakan sekolah yang beruntung karena mendapatkan kuota 10 orang tiap bidang studi, begitu juga dengan Geografi. Tetapi sayangnya, tahun ini hanya 3 orang yang berangkat. Entahlah mengapa, mungkin semua orang sudah terdoktrin denga berita kemustahilan itu. Meskipun begitu, aku tetap bersyukur. Menurutku, kuantitas itu tidak selalu berarti penting, 3 orang yang berangkat dengan kemauan yang sungguh-sungguh sejatinya lebih mampu memberi afirmasi positif bagi semangat belajarku.

Disana, tentunya, aku yang sudah mengikuti pembinaan intensif ini 2 kali selalu berusaha memberi dan saling mengingatkan satu sama lain. Rutinitas aku, Erika, dan Permata di Pelatihan Intensif hingga pelaksanaan OSK 2017 selengkapnya bisa dibaca di Saat Kami Belum Bisa Melihat Derasnya Aliran Sungai Kampar

Semua Memang Sudah Ada Skenarionya

Beberapa hari sebelum pengumuman OSK, saya mengingat figure seorang Erika yang mungkin tidak bisa saya lupa. Ia tampak gelisah menunggu pengumuman itu. Ketakutan untuk kembali gagal tidak bisa kami pungkiri. Saat aku sedang tidak ada guru di kelas, ia seringkali bolak-balik ke kelasku hanya untuk menanyakan kapan pengumuman. Kami mencoba saling menguatkan. Bangku cokelat di depan kelasku menjadi saksi atas suasana haru itu.

Tenang Ren, sekalipun semuanya terlihat mustahil, Tuhan akan memperhitungkan segalanya,” begitulah kata-kata darinya yang akan selalu saya ingat sampai kapanpun.

Gembar-gembor berita pengumuman OSK di sekolah sudah terdengar. Jam 8 pagi dijadwalkan, tetapi jam 8 kurang 15 menit pun kami belum menerima instruksi dari guru pembimbing siapa saja murid yang menjadi 10 besar OSK tiap bidang studi. Setidaknya saya gagal, saya sudah melakukan yang terbaik dari yang bisa saya lakukan, begitulah aku mencoba menenangkan diri dan mengikhlaskan setiap hal yang mungkin terjadi.

Sampai pada akhirnya..........
Singkat cerita, saya dan Erika berhasil memecahkan telur di tahun ini. Saya di posisi 6 dan Erika di posisi 10. Hal itu menandai sejarah pertama SMAN 1 Bekasi menjadi juara di OSK Geografi Kota Bekasi, walaupun saat itu belum tahu berapa orang yang akan diambil untuk melaju ke tingkat Provinsi. Terlepas dari itu, yang tersisa hanyalah rasa syukur. Syukur karena aku tak menyerah begitu saja pada kegagalan di tahun kemarin. Syukur karena aku telah menutup telinga untuk mendengar nasihat orang yang berkata tidak mungkin.

Menunggu berapa orang yang akan dibawa untuk lanjut ke tingkat Provinsi, aku tetap mempersiapkannya. Aku masih ingat betul, aku sampai mengorek celengan untuk print soal-soal dari berbagai Olimpiade Geografi di universitas-universitas dan soal-soal OSP (Olimpiade Sains Tingkat Provinsi) yang belum aku punya sampai aku meminjam buku Pelatnas (Pelatihan Nasional menuju Tahap Internasional) Kebumian dari kakak kelasku yang dipinjamkan pada teman kelasku.  Tetapi, sayangnya kenyataan berkata lain. Aku menjadi orang yang pertama yang tergunting dan tidak bisa melanjutkan ke tingkat Provinsi. 5 orang diatasku berhak untuk berangkat ke tingkat Provinsi. Kecewa. Naif jika aku memungkiri rasa itu. Setidaknya saya gagal, saya sudah melakukan yang terbaik, begitulah aku kembali mencoba menghibur diriku sendiri.

Dan ya, OSK 2017 itu adalah kesempatan terakhirku di SMA untuk bisa melaju ke tingkat Nasional dan kedua kalinya aku gagal. Tidak mendapatkan kuota untuk melaju ke Provinsi menandakan aku harus berhenti sampai disitu dan menguburkan mimpiku dalam-dalam berangkat ke Riau (tuan rumah OSN 2017).

Ambisiku Tak Lepas Begitu Saja

Menyadari bahwa aku telah gagal menjadi bagian dari ajang yang bergengsi dan prestisius itu, aku mencari berbagai macam lomba yang bisa mengasah kemampuan dan minatku di geografi. Momen itu penting bagiku sebab tutor-tutorku selama pembinaan selalu berkata bahwa OSK bukan satu-satunya ajang untuk mengukur kemampuan dan tidak selalu setiap gagal OSK, mimpi itu harus runtuh dan lenyap. Aku pun memutuskan untuk mencoba kembali Olimpiade Geografi (OLIPS) tingkat SMA/MA yang diadakan oleh Pendidikan IPS, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Jakarta tingkat Jawa dan Bali. Di tahun 2016, aku pernah mengikuti lomba yang sama dengan tingkat Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan baru berhasil menjuarai Harapan III. Di tahun ini, aku berpartner dengan Erika (lomba ini memang diadakan tim, setiap tim terdiri dari 2 orang).

Singkat cerita, lomba ini terdiri dari banyak tahap yang kira-kira tahapan seluruhnya sekitar 3 bulan, dimulai dari seleksi wilayah, seleksi tahap II (bagian 5 tim tiap kota), seleksi tahap III (bagi 12 tim terbaik), seleksi semi final (bagi 8 tim terbaik), dan seleksi final (bagi 5 tim terbaik untuk memperebutkan juara I sampai Harapan II). Syukur yang tak terhingga, aku dan Erika bisa melewati semua seleksi ini dan kami berhasil menjadi Juara I.

Saat penyerahan hadiah, MC mempersilahkan kami berdua untuk maju dan memberikan sedikit kesan-kesan. Saat itu, juri dalam lomba ini yang sedang mengambil S2 Pengelolaan Pesisir di Jerman, bertanya pada kami, “Mengapa kalian mengikuti lomba ini?,”

Mendapat pertanyaan yang demikian, aku dan Erika saling tersenyum dan berpandangan. Menebus kegagalan di OSN, begitu jawab kami padanya dan pada berapa ratus orang yang berada di ruang grand final itu.

Prepare for the Next Chapter

Tuntasnya kegiatan olimpiade di SMA ini membuatku berpikir sejenak. Mau kemana aku setelah ini ? Pembicaraan tentang SNMPTN dan SBMPTN menjadi akrab di kalangan siswa kelas 12. Sejak aku menyukai dan sudah nyaman belajar Geografi, aku sudah menaruh minat diam-diam untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada. Fakultas Geografi yang memang hanya dimiliki oleh Universitas Fadjah Mada (UGM) juga menjadi saran dari tutor-tutorku jika aku memang ingin menekuni geografi lebih jauh dan lebih dalam lagi. Selain itu, Fakultas Geografi sudah mempunyai track record yang sangat baik bahkan sampai internasional dan menjadi tempat pilihan para medalist OSN dan bahkan tingkat internasional yang ingin melanjutkan ilmu geografinya. Tetapi keinginanku itu tidak pernah kuutarakan pada siapapun. Pertimbangan jarak UGM yang jauh dan berbagai macamnya membuatku melihat sepertinya orang tuaku lebih cenderung menyarankan UI untukku.

Sampai pada akhirnya, di bulan Desember 2017, aku mengikuti Pra Intensif SBMPTN selama 1 minggu di sebuah lembaga bimbingan belajar di Depok, tempat kakaku bekerja. Kegiatan intensif berlangsung dari pukul 9 pagi sampai jam 6 sore. Pada paginya, aku ikut kakaku ke tempat kerjanya di Balai Riset dan Budidaya Ikan Hias, Depok. Disitulah aku mendapatkan sebuah ilham yang akhirnya aku memutuskan mengikuti kata hatiku.

“Ren, kamu mau lanjut kuliah dimana?,” tanya salah seorang rekan kakaku. Pertanyaan ini muncul setelah aku bercerita-cerita dengannya tentang Geografi yang telah mengisi masa SMAku.
“Kesehatan Lingkungan UI ka,”
“Itu keinginan kamu bukan?,” darr ! Pernyataan sederhana itu seperti petir menyambar di pagi buta. Aku tersentak. Kelu. Aku bahkan tidak pernah bertanya seperti itu pada diriku sendiri. “Kalo milih jurusan itu harus sesuai minat kamu, Ren. Jangan sampe kamu salah pilih dan kamu ga bisa menyalahkan siapapun nantinya dan kamu harus menjalani itu seumur hidup kamu,” ia melanjutkan perkataannya.

Setelah itu, sekembalinya aku dari tempat les, kakakku mengajakku untuk berbincang.

“Aku ngebolehin kamu deh ke UGM. Lanjutin aja apa yang udah kamu mulai,”

Sejak pembicaraan saat itu, entah mengapa semangat belajarku kembali. Aku semakin giat mempersiapkan SBMPTN karena aku tidak mau menaruh harapan pada jalur undangan. Aku semakin giat belajar mempersiapkan SBMPTN dengan harapan aku hanya perlu berusaha sedikit lagi untuk menemui mimpiku dan melanjutkan minatku.

Pilihanku Berlabuh pada UGM di Laman SNMPTN

Setelah pengisian PDSS, aku ternyata mendapat kesempatan untuk bisa mendaftar SNMPTN 2018. Seperti cerita yang telah aku bahas di awal, perkembangan nilai akademikku sudah tidak karuan. Banyak sekali nilai yang naik turun, bahkan nilai rata-rata mata pelajaran wajibku terbilang cukup, tidak semenakjubkan seperti teman-temanku yang lain. Saat itu banyak sekali yang berkata bahwa aku cukup nekat untuk memilih UGM dengan nilai segitu karena memilih UGM berarti aku harus lintas provinsi yang kata orang peluangnya lebih kecil dibanding memilih universitas yang masih berada di satu wilayah dengan provinsi asal sekolah). Aku mencoba berkonsultasi dengan siapapun, baik guru BK, teman dekatku, kakaku, dan orang tuaku tentang jurusan yang aku harus ambil. Saat itu yang terpikir adalah bukan prodi apa yang harus aku pilih supaya lolos SNMPTN tetapi aku tidak mau menjadi orang yang buang-buang kesempatan. Ini tidak berarti juga aku harus membanting stir pada jurusan yang sama sekali gak aku suka hanya untuk mendapat tulisan “lolos”. Hingga akhirnya, tibalah di mana pengisian prodi pada laman SNMPTN 2018 dan sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk memilih Fakultas Geografi UGM atau SBMPTN. Ketika aku melakukan finalisasi, aku tinggalkan embel-embel lolos SNMPTN (karena aku tahu bahwa aku hanya berharap pada 3 sertifikat yang aku unggah).

Selama seleksi SNMPTN, aku semakin meningkatkan effort ku untuk belajar SBMPTN untuk prepare jika aku ditolak di undangan dan aku butuh waktu yang cukup lama untuk kembali membangun semangat belajarku. Aku selalu berusaha meningkatkan pemahamanku untuk menjawab soal-soal Fisika dan Matematika IPA lebih banyak pada setiap Try Out SBMPTN karena untuk masuk ke Fakultas Geografi aku harus menempuh SBMPTN Saintek (IPA). Selama itu pula, aku juga harus menyelesaikan kegiatan dan berbagai macam ujian di kelas 12 mulai dari ujian praktek, USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional), dan UNBK.

Singkat cerita, tibalah hari pengumuman SNMPTN. Sebelum melihat hasilnya, aku berusaha untuk mempersiapkan hatiku untuk kembali bangun dengan cepat apabila tulisan “merah” yang aku lihat nanti. Kalau ditanya aku optimis atau gak lolos undangan, aku gak tau. Tapi ketidakoptimisannya lebih besar sih karena prodi pilihan pertamaku, Pembangunan Wilayah, hanya menyediakan 27 kursi melalui jalur SNMPTN. Ya, bayangkan saja ya se-Indonesia berebut kursi yang terbilang sedikit itu. Selain itu, dilihat dari track record tahun lalu, Pembangunan Wilayah tidak menerima satupun siswa dari Jawa Barat melalui jalur SNMPTN.

Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, aku langsung mengetik nomor pendaftaran dan melihat hasil seleksi. Menunggu sebentar. Mungkin websitenya down. Tidak lama setelah itu, aku melihat tulisan “Selamat, Anda dinyatakan lolos SNMPTN 2018”. Ya, aku lolos di pilihan pertama, Pembangunan Wilayah – Fakultas Geografi- Universitas Gadjah Mada (UGM).  

Apa yang terbersit di benakku pertama kali ? 
Bukan gembira karena telah lolos undangan tetapi bahagia karena sebentar lagi aku akan kembali menekuni hal yang telah aku mulai. Bahagia karena aku akan menekuni kembali geografi setelah aku gagal berangkat ke nasional. Bahagia karena aku akan bertemu mereka yang tidak sempat aku temui di ajang besar itu.

Lalu, mengapa aku memilih Pembangunan Wilayah ?

Pembangunan Wilayah merupakan salah satu program studi yang berada dibawah naungan Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada. Prodi ini lebih menitikberatkan pada pengkajian sumber daya wilayah dan membangun kompetensi dalam hal melaksanakan program atau proyek pembangunan, baik sectoral maupun berorientasi wilayah dengan menggunakan metode analisis geografis dan teknik-teknik perencanaan pembangunan wilayah serta aplikasi SIG (Sistem Informasi Geografis).
Selama belajar di olimpiade, aku sangat menaruh minat pada pembahasan tentang Geografi Pembangunan dan Geografi Perkotaan. Menurutku, hal ini sangat menarik. Dari segi prospek pun permasalahan tata ruang menjadi semakin kompleks sehingga dibutuhkan para ahli yang mampu menata dan menyelesaikan permasalahan tata ruang dan wilayah yang lebih akurat dan sistematis

Big Thanks

Terima kasih untuk setiap orang yang telah mendukungku. Tutor-tutorku : Ka Rio (Akuntansi UI), Sandy (Hubungan Internasional UI), Ka Rafika (Ilmu Ekonomi UI), Ka Syifa (FEB Unpad), Ka Dzaki (Manajemen UI), Ka Nuresa (Alumni FITB ITB), Ka Zachary (FITB ITB), Ka Maska (FITB ITB), dan Ka Asthina (Alumni FITB ITB), guru-guru yang selalu memberikan dukungan dan fasilitas, teman-teman dekatku, kakakku, keluargaku dan orangtuaku, serta semua yang telah mendukungku untuk berkembang yang mungkin tidak bisa kusebutkan satu persatu.

Terima kasih pula untuk setiap orang yang telah mengecilkanku. Aku sadari bahwa cibiran dan penilaian negatif juga berperan penting dalam pengembangan diri setiap orang.

 ***

Aku adalah salah seorang yang pernah gagal untuk menjadi bagian dari ajang yang prestisius itu. Aku adalah yang gagal menginjakkan kaki di sana dan bertemu dengan anak-anak hebat dari seluruh penjuru tanah air. Bahkan aku tidak pernah merasakan leherku dikalungkan medali kebanggaan itu. Aku belum pernah melalui itu semua, bahkan aku tidak dapat merasakan semua itu di masa putih abu-abuku. Tapi bagiku, perjalanan menuju kesana, ke-OSN, telah mengajarkanku banyak hal. Tentang berjuang secara tulus, tentang melihat sesuatu daripada sudut pandang yang berbeda, dan untuk selalu sederhana sebab begitu banyak orang hebat di tanah air ini. Dan pada akhirnya, mengikhlaskan adalah hal yang harus aku miliki sekarang. Bagiku, berjuang untuk sesuatu yang aku sukai adalah sebuah kebanggaan. Terlepas dari hasilnya yang mungkin menggembirakan atau bahkan mengecewakan. Dan kini, biarlah aku berlabuh lebih jauh dan akan aku bagikan kembali ceritaku ketika aku kembali merapat nanti.


Komentar

  1. Irene:'''') how I love your writings, and as a person who know a piece of your story of struggle, I could proudly say, you deserved this and all the goods in the world. Lastly, selamat mengakar kuat menjulang tinggi, Novirene Tania.

    -tertanda, 16317

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saat Kami Belum Bisa Melihat Derasnya Aliran Sungai Kampar